Voucher yang Tidak Ikhlas dari Sebuah Restoran

Jaman sekarang ini yang namanya pelaku usaha makin pandai. Mereka menawarkan berbagai macam promosi untuk menarik perhatian konsumen. Ada yang namanya diskon sesuai umur, hadiah ulang tahun, diskon sekian puluh persen, dan bahkan voucher gratis. Salah satu yang menerapkannya adalah sebuah restoran terkemuka di Kota Surabaya, kita sebut saja Restoran BS. Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah voucher untuk makan di Restoran BS senilai Rp. 50.000,-.

Seperti program promosi yang lain, di bagian bawah voucher tersebut terdapat kalimat-kalimat yang dicetak kecil dengan ukuran font dan warna yang cukup sulit dibaca:

Terms and Conditions:

  • Tidak dapat ditukarkan dengan uang.
  • Digunakan pembayaran max 50% dari total bill.
  • Tidak berlaku tanpa stempel & tanda tangan pemilik.
  • Tidak dapat digabungkan dengan promosi lainnya.
  • berlaku 1x pemakaian.
  • Dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.
  • Food only.
  • Dine in only.

Ke 8 poin tersebut kelihatannya wajar saja untuk voucher makan di restoran. Terutama mengenai food only dan dine in only. Food only berarti voucher hanya berlaku untuk makanan dan tidak berlaku untuk minuman. Sedangkan dine in only berarti voucher hanya berlaku untuk makan di tempat dan tidak berlaku untuk pesan melalui telepon (delivery) atau bawa pulang (take away). Namun ada yang lucu dan janggal dari voucher tersebut. Yakni pada poin kedua. Pada voucher tersebut disebutkan bahwa voucher berlaku untuk pembayaran maksimal 50% dari total bill. Kalau dikatakan maksimal 50% dari total tagihan, maka apa yang ada di benak Anda?

Ini berarti dengan voucher senilai Rp. 50.000,- tersebut kita akan mendapatkan potongan hingga Rp. 50.000,- untuk satu kali transaksi. Belanja Rp. 200.000,- maka yang harus dibayar Rp. 150.000,-. Belanja Rp. 100.000,- maka yang harus dibayar Rp. 50.000,-. Kalau belanja Rp. 80.000,- berapa yang harus dibayar? Seharusnya Rp. 40.000,- karena 50% dari Rp. 80.000,- adalah Rp. 40.000,-.

Sejauh ini sudah jelas? Kurang jelas ya? Mari kita simak tabel dibawah.

Jumlah Transaksi
Voucher
Potongan harga
Jumlah Pembayaran
Rp. 300.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 250.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 80.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 40.000,-
Rp. 40.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 25.000,-
Rp. 25.000,-

Ketika saya konfirmasi voucher ini kepada pelayan restoran tersebut, maka yang dijelaskan olehnya adalah voucher tersebut berlaku bila konsumen membeli makanan untuk makan di tempat dan tagihannya di atas Rp. 100.000,-. Nantinya tagihan untuk makanan dan minuman akan dipisah. Tagihan minuman tidak mendapat potongan, sedangkan tagihan makanan akan mendapat potongan bila nilai tagihannya di atas Rp. 100.00,-.

Menurut saya, seharusnya logikanya seperti ini:

jika Anda beli makan di sini
maka Anda mendapat potongan Rp. 50.000,-
tapi jika 50% dari tagihan makanan Anda lebih kecil dari Rp. 50.000,-
maka Anda mendapat potongan 50% dari tagihan makanan Anda.

Tapi logika si pelayan restoran seperti ini:

jika Anda beli makan di sini dan tagihannya di atas Rp. 100.000,-
maka Anda mendapat potongan Rp. 50.000,-
tapi jika tagihan Anda di bawah Rp. 100.000,-
maka Anda tidak mendapat potongan harga.

Menurut Anda mana logika yang benar?

Ada yang lebih lucu lagi. Dengan logika si pelayan, maka otomatis jumlah yang Anda bayarkan pasti di atas Rp. 50.000,-. Kata si pelayan, setiap transaksi Rp. 50.000,- mendapatkan voucher Rp. 50.000,-. Namanya manusia di mana-mana pasti senang kalau mendapatkan voucher gratis. Maka beberapa hari kemudian ia datang kembali ke sana untuk memanfaatkan voucher tersebut, lalu dapat kupon lagi 🙂 Saya hanya bisa membatin, diakalin lagi nih.

Tak jarang banyak konsumen yang mendapatkan 2 atau 3 kupon. 1 kupon dipakai sendiri. Kupon lainnya diberikan kepada keluarga atau teman. Alhasil virus akal-akalan tersebut menyebar dengan cepat.

Sebenarnya ini adalah salah satu trik marketing yang wajar untuk digunakan oleh pelaku usaha, namun syarat dan ketentuannya harus lebih jelas, menyebutkan bahwa voucher hanya berlaku untuk pembelian makanan lebih dari Rp. 100.000,-, bukan menyebutkan maksimum 50% dari total tagihan. Bagaimana menurut Anda?

Latest Comments

  1. Agus Siswoyo 13/07/2010
    • Wibowo Tunardy 14/07/2010
  2. Fredy 29/07/2016
  3. Seal 11/06/2017

Leave a Reply